Social Icons

Pages

Thursday, May 19, 2016

Tips Menulis Artikel



Oleh-oleh dari workshop Pekan Buku 2016

Tadi pagi saya berkesempatan ikut workshop pelatihan menulis di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta. Ini merupakan bagian dari serangkaian acara Pekan Buku 2016 yang diselenggarakan selama sepekan ini. Hari ini cukup seru karena kami berkesempatan untuk dapat wejangan langsung dari tim redaksi harian Kompas. Isinya semaca tips n trik jitu menghadapi UNAS. Lho! Hal itu karena penyampaian narasumber nggak seperti ikut pelajaran Bahasa Indonesia di jaman sekolah dulu. Apalagi seperti pembahasan penulisan karya ilmiah waktu jadi mahasiswa. Substansi, padat, jelas dan jitu! Meskipun nggak mudah untuk menerapkan ilmunya, tapi saya jadi optimis dan semangat untuk mencoba. 

Tips dan trik yang disampaikan oleh tim redaksi ini mengenai kaidah penulisan ilmiah populer di Kompas, khususnya penulisan kolom opini. Dengan mengetahui ini, siapa tahu tulisan kita bisa dimuat di koran Kompas. Meskipun spesifik tentang kekhasan penulisan opini di Kompas, namun prinsip-prinsipnya universal dipakai dalam penulisan ilmiah populer secara umum. Bagaimanapun Kompas sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya sebagai media massa dengan kaidah penulisan berita yang berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau tulisan saya dilihat oleh tim redaksi Kompas nih, pasti mereka geleng-geleng. Hehe..

Baiklah, singkat saja saya sampaikan oleh-oleh dari penyusupan saya di forum tersebut. Saya bilang penyusupan karena peserta di sana hampir semuanya adalah guru dan mahasiswa. Saya tidak masuk sebagai salah satunya. 

Kalau ingin menulis pasti diawali dengan pertanyaan, “Mau nulis apa ya?”. Kalau buat latihan, silakan menulis apa saja yang kita lihat, dengar dan rasakan. Tapi, jika ingin tulisan dimuat di media, maka syarat pertama adalah topiknya harus up to date. Isu yang diangkat harus yang lagi ‘hot’. Kita emang gak boleh selalu iku-ikutan aja, tapi dalam hal menulis justru harus peka dengan isu kekinian.

Berikutnya adalah keep it short & simple. Penulis harus empati sama pembaca, jadi jangan bikin pembaca pusing baca tulisan kita. Apalagi kebanyakan pembaca Indonesia yang nggak betah baca lama-lama apalagi tulisan yang ‘ndakik-ndakik’. Ini mungkin pengetahuan yang sudah umum bagi para penulis juga, tapi kadang kita sering lupa. Berikut ini tips-tipsnya untuk penulisan ilmiah populer:

  1. Kalimat yang baik bisa dibaca dalam satu nafas. Jangan sampai yang baca jadi megap-megap apalagi kehabisan nafas karena kalimat kita seperti panjang kereta api. Kalau dikuantifikasikan kira-kira normalnya 12-15 kata. Paling mentok 17 kata saja.
  2. Di dalam satu paragraf juga jangan terlalu banyak kalimat. Kesannya seperti bus ekonomi saat mudik lebaran, penumpangnya berjejal dan ‘sumpek’. Paragraf yang tidak lebih dari 7 kalimat akan terlihat rapi dan jelas ide pokoknya.
  3. Untuk sebuah artikel atau opini, idealnya tulisan tidak lebih dari 15.000 karakter. Kalau lebih dari itu bisa bikin esai, jurnal atau skripsi sekalian berlembar-lembar. 
  4.    Buat judul ringkas dan menarik. Jangan buat judul seperti membuat kalimat dan bikin orang sudah mules duluan sebelum membaca
  5. Letakkan hal-hal penting di awal pembahasan, sehingga pembaca bisa menangkap pesan saat masih semangat membaca. Kalau sudah di akhir, biasanya daya konsentrasi pembaca mulai menurun.
  6. Perhatikan tanda baca, pemilihan kata dan penulisannya, pastikan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang benar tetapi tetap mudah dicerna.

Dari serangkaian tips itu, kalau diringkas ‘Kiss & Tell’. Eh, jangan disalahgunakan ya. Kiss & Tell berarti keep it short and simple dan menulislah seperti bercerita. Dengan begitu tulisan kita bisa mudah dicerna dan menarik, alhasil pesan kita bisa tersampaikan dengan baik kepada pembaca. lebih-lebih kalau tulisan kita bisa dilirik tim redaksi untuk dimuat. Selamat mencoba! Happy Writing!

Tuesday, May 17, 2016

Belajar dari Kang Emil di Buka Lapak Forum Indonesia Muda



Senin kemarin saya mengikuti sebuah forum yang asyik. Forum yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Muda dan Buka Lapak di Balai Sarbini dari pagi hingga sore hari. Ini semacam seminar leadership dan motivasi untuk para pemuda agar memiliki jiwa entrepreneurship dan siap berada di era digital. Ada beberapa pembicara yang hampir semuanya merupakan tokoh anak muda yang sukses di berbagai bidang, khususnya dalam bidang digital. 

Saya tidak akan mengulas satu per satu siapa dan apa saja yang disampaikan oleh masing-masing pembicara. Dari sekian banyak pembicara, yang paling berkesan adalah materi yang disampaikan Ridwan Kamil atau yang biasa disapa dengan Kang Emil. Saya terkesan dengan seseorang yang bisa berhasil di bidangnya karena dorongan nilai-nilai agama yang baik. Saya jadi belajar bahwa ajaran Islam itu universal dan membumi. Kang Emil menunjukkan dengan bahasa sederhana dan bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan secara praksis di kehidupan sehari-hari. Terlebih di jaman seperti sekarang ini, sangat sulit sekali mencari figur pejabat yang ingat agama, bahkan menjadikannya sebagai landasan dalam kehidupannya.

Di awal beliau menyampaikan,  ‘Sebaik-baiknya manusia adalah yg bermanfaat'. Itulah yang menjadi motivasinya dalam mengerjakan segala sesuatu. Kita banyak mengenal Kang Emil setelah beliau menjadi walikota, tetapi sebenarnya beliau sudah banyak berkecimpung di organisasi dan komunitas sejak lama. Semua komunitas yang beliau buat adalah komunitas yang mengajak dan menggerakkan banyak orang untuk kegiatan yang positif di berbagai bidang. Hingga kini pun banyak program-program yang dibuat oleh Kang Emil dengan orientasi sosial, menyejahterakan dan membahagiakan masyarakat.

Beliau menyampaikan bahwa manusia itu diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi ini. Paling minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, lalu keluarga. Jika mampu, maka menjadi pemimpin masyarakat yang lebih luas. Dari situ saya menangkap bahwa apa yang kita lakukan tidak hanya untuk kepentingan dan kesenangan kita belaka tetapi bagaimana bisa menjadi pemimpin dalam arti memberi kebaikan bagi orang lain.

Tidak seperti para pembicara pada umumnya yang hanya menekankan passion dan kreatifitas semata dalam membuat suatu project atau memulai suatu usaha. Kang Emil menyampaikan untuk memulai harus berangkat dari masalah yang ada di masyarakat. Beliau menyampaikan untuk mulai dengan masalah yang sesuai dengan bidang kita atau yang kita senangi. Apa masalah yang kita fokusi, misalnya kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya, dsb. Dari situ, lantas rumuskan ide/gagasan untuk mendapatkan solusinya. Setelah menemukan konsep pemecahannya, realisasikan dengan membuat komunitas dan mengajak banyak orang untuk ikut serta dalam aplikasi ide tersebut. Dengan begitu akan banyak orang yang bisa tergerak dan tertular virus kebaikan yang ingin kita buat. Di situlah kemudian perubahan yang lebih baik bisa terus tercipta. 

Saya membayangkan, jika ada seratus orang saja dengan bidang dan profesinya masing-masing melakukan hal tersebut, maka ada seratus masalah  di berbagai bidang yang terselesaikan. Dari seratus orang tersebut membuat gerakan atau komunitas untuk kebaikan maka bisa jadi ada seribu bahkan sejuta orang yang bergerak untuk kebaikan. Kang Emil juga menekankan untuk selalu melakukan IQRO’. Iqro itu bukan saja membaca buku, tetapi membaca kenyataan di sekitar kita, apa saja. 

Dari apa yang dilakukan dan prestasi yang dibuat oleh beliau, saya melihat beliau sangat teliti dalam membuat rumusan pemecahan masalah. Tentu saja karena ditunjang data yang valid. Beliau punya tim analisa dan membuat sistem birokrasi yang berbasis data aktual. Selain itu juga membuka ruang dialog dan keterbukaan dengan rakyatnya. Wajar saja jika solusi yang dihadirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Bahkan ide-ide pembangunanpun juga menampung aspirasi dari berbagai pihak, terutama warganya sendiri.
Karena di forum ini adalah tentang motivasi tentu saja Kang Emil menekankan untuk siapa saja memiliki impian yang tinggi. Kata Kang Emil, “Jika saya yang orang biasa saja bisa, Kalian pasti juga bisa”. Tapi beliau juga menyampaikan pesan, "Mimpi harus tinggi, tapi kaki harus tetap membumi". Ini artinya bahwa kita harus memiliki mimpi yang setinggi mungkin, ingin berbuat sesuatu yang baik dan bermanfaat besar, tetapi jangan sampai takabur.

Kang Emil mencontohkan seperti dirinya yang menjadi pemimpin. Perbedaan pemimpin dan rakyatnya hanya beda tanggungjawab dan kesibukan, tapi pemimpin tetap manusia biasa, di hadapan Allah juga sama dengan dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, pemimpinpun tetap harus mau belajar dan mendengar dari rakyatnya, dari siapapun. Tidak boleh merasa lebih mulia dari yang lain. Karena pemimpin masa kini adalah pemimpin yang lahir dari rakyat, menjadi bagian dari sesama manusia. Ia bukanlah seorang nabi atau raja yang merupakan perantaran Tuhan. Ya, sayapun memahami siapapun manusia itu tidaklah suci dan mulia secara status dunia. Di hadapan Allah tetap sama, hanya ketaqwaan yang berbeda dan itupun tentu Allah yang bisa menilainya. 

Yap, itulah pembelajaran yang saya dapatkan dari paparan Kang Emil hari itu. Dari situ saya semakin percaya bahwa ada nilai universal yang dipahami oleh manusia jika mau menggali ilmu dan mengahayati makna. Ada dorongan dan pijakan nilai-nilai kebaikan yang apabila itu dipahami lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan efek dan hasil yang baik. Dan nilai-nilai universal itu bisa ditemukan siapa saja, dihayati dan diamalkan oleh siapa saja. 

Saya bersyukur, saya bisa terkoneksi dengan orang-orang baik di forum tersebut. Saya pun berandai-andai, apabila ada orang dengan berbagai bidang, profesi, pendekatan ilmu bekerja keras, berkarya sebaik-baiknya untuk bisa membawa manfaat bagi sekitarnya, Ah sungguh indahnya dunia ini.

Thursday, May 12, 2016

Ketika (mungkin) kebaikan bertarung dengan (mungkin) kebaikan



Judul ini mungkin terdengar aneh. Tulisan ini muncul begitu saja ketika saya mendapati fenomena yang buat saya juga tak seharusnya. Pernah terbesit tanya, bagaimana mungkin kebaikan bertarung dengan kebaikan yang kemudian satu ingin menghancurkan yang lain. Saya kemudian berpikir, apakah itu memang keduanya adalah kebaikan? Bagaimana mungkin kebaikan saling membunuh, saling mencaci dan meniadakan. Tetapi kenyataannya satu sama lain saling mengklaim dirinya yang punya niat baik, memperjuangkan kebaikan dan untuk tujuan kebaikan. Sehingga saya lantas terpikir bahwa bisa jadi itu masih hanya ‘mungkin’ kebaikan. 

Saya belum melihat full film Batman vs Superman. Tetapi dari resensi dan trailer film tersebut menggambarkan dua sosok superhero yang awalnya merupakan sosok pahlawan pejuang kebaikan untuk masyarakat kemudian saling berseteru. Lalu ada lagi film Captain America: Civil War. Dalam resensi di Kompas, Minggu 8 Mei 2016 tertulis dengan judul Wajah Kelabu Pahlawan Super. Di situ diceritakan adanya perpecahan di antara para superhero dan kemudian para pahlawan terbagi menjadi dua kubu yang justru saling bertarung.
Dua film tersebut menunjukkan gambaran para pahlawan yang tidak hanya berisi tentang perjuangan membela orang-orang tak berdaya, melawan penjahat dan membangun masyarakat yang baik. Tetapi juga bagaimana superhero juga memiliki ego memandang apa yang menurut mereka baik, saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, ada kalanya juga mudah tersulut dan terprovokasi. Akibatnya, terjebak dalam ego dan sebuah misi yang menurutnya untuk kebaikan masyarakat yang diperjuangkannya tetapi justru menciptakan sebuah bencana. 

“Mengapa heroisme dalam menghalau bencana justru menciptakan bencana baru?”, begitulah petikan resensi di Koran kompas edisi tersebut. Pernah ada yang mengatakan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk bisa menyelamatkan kehidupan dari bencana yang lebih besar. Pengorbanan itu haruslah ditempuh dengan mengorbankan sebagian orang, tenaga, waktu, biaya bahkan mungkin etika. Dengan begitu, dunia yang lebih baik, keselamatan dan kebaikan jangka panjang bisa terwujud. Saya sepakat bahwa perjuangan kebaikan jangka panjang kadang harus mengorbankan beberapa hal. Tetapi untuk menghitung apa yang layak dan tidak untuk dikorbankan, tentu harus berhati-hati. Jika tidak, maka bukan kebaikan yang tercipta tetapi justru bencana.

Terlebih jika kemudian pengorbanan yang dilakukan itu haruslah melanggar etika atau nilai moral. Saat pengorbanan itu harus dengan melanggar hak manusia lain entah kecil atau besar, melanggar obyektifitas, menumbuhkan kebencian dan justru memicu perseteruan yang lebih luas dan panjang, tentunya haruslah ada evaluasi. Kita harus mulai bertanya, “Apakah pengorbanan itu memang untuk kebaikan atau hanya sekedar mempertahankan ego, entah untuk pengakuan, harga diri, kekuasaan atau kepemilikan tertentu.”
Bagi manusia yang beragama, terlebih sebagai umat muslim ada prinsip moral dan bahkan perilaku yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Kebijaksanaan beliau tidak hanya terlihat dalam menghadapi perbedaan pendapat di antara sahabat dan umatnya. Dalam menghadapi musuh-musuh Islam, meskipun Nabi juga menggunakan taktik tetapi taktik di sini bukan menggunakan cara-cara yang tidak beretika. Meskipun yang dihadapi Nabi adalah orang-orang yang licik dan kejam, tetapi Nabi tidak menggunakan cara yang sama untuk melawannya. Nabi senantiasa menggunakan prinsip keadilan bahkan keadilan itu tidak selalu membalas dengan sama persis. Ada proses dialog, negosiasi dan memaafkan di dalamnya. Di situlah Nabi menunjukkan kebesaran pemikiran, kepribadian dan tentu saja ajaran Islam itu sendiri. 

Sayangnya, kadang sebagian orang yang cenderung emosional mengambil bagian pembalasannya saja. Mereka yang merasa di jalan yang benar bahkan kadang bisa beperilaku sangat buruk pada orang-orang yang mereka anggap berseberangan. Hingga kemudian menjadi mudah menyalahkan. Kebaikan yang dilakukan orang lain dipandang sebagai pencitraan, apalagi jika melakukan kesalahan segera dicap pendosa besar. Atas dasar itu kemudian penghakiman dilakukan yang segera mengundang hujatan dan caci maki publik. 

Terlebih di jaman seperti sekarang ini dimana arus informasi begitu cepat. Apa yang masih dugaan segera saja dipublish, apa yang masih prasangka segera jadi kesimpulan, data yang masih sepihak dicap valid. Lalu berita buruk tersebar di mana-mana, apa yang masih opini segera menjadi kebenaran. Sayangnya, publik sedemikian mudah untuk digiring ke arus opini dan kemudian memaki apa yang mereka tidak tahu, menghujat seseorang yang tidak pernah mereka kenal. Mereka begitu mudah diyakinkan karena tidak memiliki tahu data riil, tidak punya independensi dan ketatnya metode analisa.

Jika dalam perjuangan mencapai kebaikan mengorbankan nilai-nilai kebaikan itu sendiri, maka tentu perlu bertanya ulang apakah benar-benar sedang memperjuangkan kebaikan atau hanya rasionalisasi saja. Itu yang saya katakan ‘mungkin’ kebaikan, tetapi belum tentu kebaikan sesungguhnya. Kita bisa saja membenarkan apa yang sedang kita lakukan adalah baik dan meyakinkan banyak orang tentang kebaikan itu. Tetapi kita tentu tidak bisa membohongi hati nurani dan Allah Maha tau apa yang ada di dalam hati setiap manusia. Pada saatnya semua tentu akan dimintai pertanggungjawaban. 

Yah, jika pada akhirnya orang yang (mungkin) baik dan orang yang (mungkin) baik saling bertarung, kemudian saling keras pada kubu masing-masing dan terjadilah perseteruan yang panjang, ada kalanya memang waktu yang akan menjawab. Jika tidak di dunia, ya di akherat kelak. Meskipun sangat pahit melihat kenyataan orang-orang baik saling berlaga bukan untuk melawan kejahatan yang sesungguhnya. Saya jadi teringat ayat di bawah ini meskipun mungkin ada perbedaan konteks tetapi masih menunjukkan bagaimana seharusnya sesuatu yang telah menyatu tidaklah baik bila bercerai berai kembali.
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu (QS An Nahl 92)”

Bagaimana dengan Anda sendiri, di manakah Anda ketika para superhero berseteru? Apakah Anda berada di salah satu kubu sehingga ikut dalam perseteruan, sekedar menjadi supporter yang bersorak dan tepuk tangan, atau tidak ambil peduli? Setiap pilihan akan punya konsekwensi dan pertanggungjawaban, selamat mengambil sikap.

Sunday, May 8, 2016

Perjuangan Hidup untuk Keabadian



Keabadian adalah obsesi manusia sejak  ribuan tahun yang lalu. Adanya Fir’aun yang menyebut dirinya sebagai Tuhan adalah lantaran hasratnya untuk bisa hidup abadi, yang terkuat dan terhebat di dunia. Ramuan dan teknik kesehatan agar manusia bisa berumur panjang juga dikembangkan dari masa ke masa. Kita tentu pernah dengar mitos tentang air atau ramuan yang bisa membuat orang hidup abadi. Bahkan hari ini, meski sepertinya hanya khayalan, teknologi itu terus saja dikembangkan dan masih menjadi obsesi banyak orang.
Saya pernah menonton sebuah film Trancendence yang dibintangi oleh Johny Depp. Film tersebut bercerita tentang sebuah penemuan yang mengkolaborasikan nano teknologi dan internet. Dari teknologi tersebut dapat membuat segala hal bisa terbarui dan bahkan manusia hidup abadi serta mengontrol segala sesuatu layaknya Tuhan. Bagi saya itu tidak hanya sebuah film fiktif, tetapi gambaran keinginan manusia tentang kehidupan dan teknologi di masa depan.

Manusia secara sadar atau tidak sangat terobsesi untuk hidup abadi, paling tidak dalam waktu yang lama. Keabadian yang diinginkan manusia ada yang dalam bentuk keabadian fisik atau non fisik. Keabadian fisik biasanya berupa panjangnya umur dan kekayaan. Upaya yang dilakukan biasanya dengan melakukan perawatan tubuh mulai dari latihan fisik, vitamin, perawatan kecantikan, operasi plastik, dsb. Bisa juga dengan mengejar kekayaan tiada batas agar dengan kekayaannya bisa membeli segala macam kebahagiaan. Tetapi bahwa ternyata kematian tak dapat dihindari, pada ahirnya harus diterima. 

Sedangkan orang yang mengejar keabadian non fisik, biasanya ingin agar namanya tertulis dalam sejarah dan dikenang sepanjang kehidupan manusia. Ada orang-orang yang karena prestasinya, kebesaran pemikirannya, karya agungnya di masyarakat lantas ia dikenang dalam sejarah peradaban manusia. Kisahnya selalu dibacakan dari generasi ke generasi. Meski mereka sesungguhnya selama hidup tidak pernah terpikir untuk diabadikan seperti itu. Namun, ada pula manusia yang sejak awal ingin namanya abadi dan dikenang entah untuk sebuah harga diri, nama baik keluarga, atau apapun. Tidak jarang kemudian dari mereka yang lantas menuliskan sejarahnya sendiri agar ia bisa senantiasa dikenal sebagai pahlawan dan orang besar di dunia. Mereka menggunakan seluruh sumber dayanya untuk diakui dan mendapatkan tempat terhormat di dunia. 

Saya memandang bahwa keinginan manusia untuk hidup abadi adalah obsesi yang memang alamiah muncul. Namun, kadang kesalahan dalam mengartikan apa yang bisa membuat orang abadi akan menyesatkannya. Bahwa yang diinginkannya sebuah keabadian, malah yang didapatkan hanya hal-hal semu belaka. Jika keabadian adalah yang dituju, maka ada alat dan jalan untuk mencapainya. Kadang kita bisa terjebak memandang alat dan jalan itu sebagai keabadian itu sendiri, hingga justru kemudian tidak bisa mencapai keabadian yang sebenarnya.

Di Islam sendiri sebenarnya menyediakan tempat keabadian bagi umatnya. Hanya saja sayang, kadang sebagian orang hanya mampu melihat dalam jarak pendek. Kehidupan dunia menjadi tujuan, apa-apa yang diusahakannya adalah mendapatkan kesuksesan dan kejayaan di dunia. Di situlah kemudian, ia gantungkan seluruh harapannya, usahanya dan segenap energinya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. Kekayaan, karir, popularitas, nama baik, kekasih adalah kebahagiaan yang dikejar habis-habisan. Ketika tak mendapatkannya atau kehilangannya, itu akan menjadi bencana besar dan penderitaan tak berujung.
Allah telah mengingatkan kita dalam firmanNya, Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al Hadid 20)”.

Bagi orang-orang yang mengejar keabadian yang sesungguhnya, ia akan lebih bisa memandang apa yang ia miliki di dunia ini hanyalah alat yang bisa datang dan pergi, yang dapat dipegang tapi ada kalanya harus dilepas. Orang seperti ini akan lebih siap mendapati kenikmatan dunia ataupun kehilangannya. Saya pernah merasa begitu khawatir saat hampir tidak memiliki apapun untuk dibanggakan dalam hidup ini. Pernah beberapa waktu menangis dan dalam kesedihan yang panjang saat kehilangan sesuatu yang dicintai. Saya pikir bahwa saya adalah orang yang payah dan tidak berguna. Saya merasa menjadi sia-sia apa yang pernah saya lakukan. Kebaikan yang pernah saya perbuat, kehadiran saya di tengah orang-orang yang saya kasihi dan segala pengorbanan saya terasa nol. “Buat apa jika pada akhirnya saya bukan siapa-siapa,” pikir saya.

Ternyata saya lupa, bahwa apa yang saya lakukan sebenarnya bukan untuk mendapatkan balasan di dunia ini. saya lupa bahwa ada kehidupan yang lebih panjang dari masa puluhan tahun di dunia. Saya lupa bahwa apa yang ada di dunia ini hanya semu dan rapuh. Saya lupa bahwa Allah mencatat seluruh amal dan akan memberikan balasan atas kebaikan yang bahkan sangat kecil. Harusnya inilah keabadian yang harus saya pegang. Saya tidak tahu apakah ikhtiar saya hari ini akan berbuah kemenangan besar, kejayaan besar atau hingga mati nanti saya hanya menjadi manusia tanpa gelar dan tak pernah tertulis dalam sejarah. Proses dan perjuangan kebaikan yang dilakukan lebih utama dari sekedar hasilnya di dunia.

Saya menyadari bahwa perjalanan hidup manusia tidak sama. Ada yang gemilang di usia muda. Ada yang merangkak perlahan, penuh luka dan darah untuk mencapai puncak. Bahkan puncak kehidupan manusia pun juga berbeda. Ada yang puncaknya adalah panggung gemerlap dan sorak sorai pendukung. Ada yang puncaknya harta dan istana serba mewah. Namun ada yang puncaknya adalah berada dalam ruang sunyi pengabdian, tinggal di pelosok daerah di sebuah gubuk berbagi ilmu dan kebijaksanaan. Ia mungkin tidak berkesempatan memiliki keluarga dan anak-cucu yang manis. Tetapi kehadirannya dapat memberikan arti bagi masyarakat di sekelilingnya.

Saya yakin bahwa Allah telah menciptakan sunnatullah yang detail. Setiap orang punya jalannya sendiri dan puncak kemenangannya sendiri. Maka ukuran duniawi itu sungguh relatif, tak bisa dengan hitungan matematis dan sekedar terlihat dari yang nampak. Akan ada masanya, setiap orang memetik hasil yang sejati dari buah usahanya. Di sanalah kehidupan abadi itu ada. Meski keabadian kita tidaklah sama dengan keabadian Tuhan, tapi setidaknya kitapun tak tahu kapan batas keabadian yang diberikan Tuhan kepada kita di akherat kelak. 

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. (QS. Al Ankabut 29)


 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates