Social Icons

Pages

Friday, April 15, 2016

Membangun Kesadaran dan Kekuatan Pribadi Lewat Sholat dan Sabar



Pengantar
Kebanyakan orang memandang bahwa apa yang dimaksud ujian adalah penderitaan dan kesengsaran. Orang menjadi sangat khusyu’ mengingat Allah dan berdo’a ketika mereka dalam masalah yang berat, namun ketika dalam keadaan yang lapang apalagi berbahagia, banyak orang yang kemudian terlena. Sekedar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi lupa akan amanah yang diberikan Tuhannya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Az-Zumar 49). Sehingga segala yang didapatkan dan dimiliki oleh manusia sebenarnya merupakan ujian. Apa yang bisa menggelincirkan manusia tidak hanya tekanan, kemiskinan, kegagalan tetapi juga kesenangan, kemenangan, harta benda.
Dari situ, sudah tentu manusia harus senantiasa waspada terhadap segala ujian, baik yang nampak, maupun tidak nampak, baik yang berupa kesedihan maupun kesenangan karena di situ setan senantiasa membisikkan godaannya. Maka perlu, bagi kita untuk terus menerus menjaga kesadaran dan membangun kekuatan untuk menghadapi segala kemungkinan. Sungguh bersyukur, Allah mengajarkan manusia untuk sholat dan sabar sebagai penolong manusia menghadapi berbagai cobaan.

Sholat dan sabar sebagai penolong
                Perintah Allah untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong disebut beberapa kali dalam Al Quran. Saya dulu sempat ragu bagaimana bisa sholat dan sabar menjadi penolong? Jika memang demikian, mudah sekali untuk mendapatkan pertolongan Allah hanya melalui sholat dan sabar. Kalau begitu, harusnya banyak yang tertolong, karena banyak sekali di dunia ini orang-orang yang sholat dan bersabar dalam penderitaan. Kemudian Saya membaca ayat ini:
Jadikan Sholat dan Sabar sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Al Baqarah 45-46)
Saya masih bingung, mengapa sholat dan sabar merupakan hal yang sungguh berat? Bukankah banyak umat muslim yang sholat dan sabar? Tetapi kemudian Allah juga menyampaikan “kecuali orang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
  1. Kekhusyu’an dalam sholat
Terkadang orang memahami khusyu’ hanya sebatas konsentrasi, meninggalkan berbagai persoalan duniawi sehingga berfokus pada gerakan dan bacaan tajwidnya. Atau berfokus pada zatNya saja. Di sisi lain, bagi orang-orang yang senantiasa mempotensikan berpikirnya, memecahkan sesuatu dengan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kerja kerasnya saja, menempatkan sholat hanya sebagai penenang jiwa. Tidak sedikit pula yang memandang hanya sekedar perintah wajib tanpa memiliki bekasan apapun ketika sholat.
Perintah Sholat turun ketika Nabi Muhammad diliputi kesedihan yang cukup mendalam atas meninggalnya paman dan istrinya. Nabi hampir putus asa dihadapkan pada tekanan Quraisy terhadap dakwahnya. Sementara paman dan istrinya yang sangat berperan dalam melindunginya sudah tiada. Hingga tahun itu dikenal sebagai tahun kesedihan. Kemudian terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj dan nabi diperintahkan untuk sholat. Kemudian bangkitlah lagi semangat dan kegigihannya untuk berjuang menegakkan Islam.
Lahirnya kembali semangat dari keputus-asaan dan ketenangan dari kegelisahan melalui sholat mungkin sering kita dengar, tetapi belum tentu kita semua mendapatkan pengalaman rasa yang sama. Saya sendiri pernah mengalami saat-saat yang begitu sulit, saat Saya harus berpisah dengan orang tua dan bekerja menjaga rumah orang yang sedang terlibat hutang. Mereka sekeluarga pindah ke luar kota sedangkan Saya setiap hari sendiri menjaga rumah, makan dari pemberian tetangga, berangkat dan pulang sekolah harus sembunyi-sembunyi karena sering didatangi oleh penagih hutang. Di situ hampir tiap hari Saya sholat malam dan berdo’a kepada Allah. Dari situ Saya mendapatkan kekuatan, keberanian untuk menghadapi masalah dan tidak takut dalam kesendirian karena Saya yakin Allah selalu bersama hambaNya. Sehingga dalam masa-masa sedih, ketika di dalam kesempitan, Saya sering meluangkan waktu untuk sekedar ‘curhat’ kepada Allah di waktu selesai sholat meski tidak bercerita kepada teman ataupun keluarga.
Sholat akan semakin bermakna ketika kita memahami arti dari yang kita bacaan. Seperti setiap kali kita mengucapkan “Inna Sholati wanusuki wama yahya wamamati”, yaitu sesungguhnya sholatku, ibadahku hanya untuk Allah. Di situ akan muncul refleksi, benarkah selama ini saya sudah memberikan segalanya untuk menjalankan perintah Allah, kemudian muncul keinginan untuk menjalankan janjinya itu.
Beberapa pengalaman Saya dalam sholat memberikan bekasan tersendiri. Ketika Saya berada dalam kesulitan, sering membaca surat Adh Dhuha ketika Sholat. Ketika membaca surat tersebut, mengingatkan bagaimana Saya dulu yang tidak tahu tentang agama, pernah cenderung pada kebebasan, berada pada kemiskinan kemudian Allah membukakan jalan kepada Saya, dikenalkan pada Islam yang rahmatan lil’alamiin, cinta pada ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi orang lain. Sekarang pun Saya sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan yang cukup bahkan bisa membantu keluarga. Dalam kebuntuan, Saya membaca surat Asy Syarh “inna maal usri usro, fa inna maal usri usro” dari situ kemudian Saya tidak saja termotivasi namun mendapatkan hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Selepas itu mulai mengurai persoalan dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan, hingga mendapatkan pemecahan masalah.
Ketika dalam kondisi yang lapang, Saya kadang membaca surat Al Asr, dari situ Saya teringat bahwa waktu luang ada ujian, kesehatan adalah ujian, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Setelah Sholat, Saya terringat untuk membuat perencanaan, melakukan evaluasi apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan. Di situlah kemudian Saya merasakan bagaimana sholat menjadi pemecahan masalah, tidak hanya sebagai penenang jiwa, motivasi tetapi juga memberikan kesadaran dan penerangan.
  1. Sabar dalam berbagai ujian
Banyak orang yang menggunakan jargon sabar lebih mengarah pada menerima atau pasrah dengan keadaan. Saya yang hidup di lingkungan keluarga yang menganut pemahaman ‘alon-alon asal kelakon’ tidak begitu suka dengan harus terus menerus bersabar. Kesabaran sering Saya benturkan dengan kecepatan, perubahan, hasil yang nyata, dsb. Namun, ternyata sabar yang sesungguhnya memiliki makna lebih jauh. Dalam firman Allah dan sejarah-sejarah perjuangan umat Islam senantiasa dikisahkan tentang kebaikan orang-orang bersabar.
Sudah tentu ketika di dalam kesulitan orang harus bersabar dan tidak putus asa, namun sabar tidak boleh diartikan hanya menerima keadaan dan menunggu kebaikan datang dengan sendiri. Di dalam kesulitan, orang yang bersabar berpikir tentang jalan keluar. Mereka justru membuat hitung-hitungan yang lebih rinci, senantiasa waspada dan memeta keadaan. Mereka tidak bisa segera melangkah karena memperhitungkan resiko-resikonya. Seperti sabar dalam menjalani proses karir. Terkadang ada kejenuhan, kebuntuan, konflik, kehilangan arah. Kesabaran dibutuhkan untuk membuka sunnatullah jalan kesuksesan, menghitung minat, prospectus, resiko dan dampak bagi organisasi dan masyarakat. Di situlah sabar bisa membuahkan kemenangan. Sebagaimana mana kemenangan yang diraih oleh Nabi dan para sahabat dalam menegakkan Islam yang penuh rahmat.
Namun, kesabaran bukan saja dibutuhkan dalam keadaan sempit dan susah. Namun juga menghadapi kesenangan dunia. Umat muslim yang saat ini hidup di era modern, tidak seperti di masa nabi. Saat itu musuh begitu Nampak dan nyata. Tetapi saat ini umat islam dihadapkan pada musuh yang tidak nampak, yaitu kilau materi dan kesenangan kebebasan. Betapa nikmatnya memiliki rumah yang nyaman, mobil yang mewah, baju yang modis, gadget yang canggih. Betapa bahagianya memiliki pacar, memiliki suami/istri yang menyayangi kita, tempat berkasih sayang. Dari situ muncul perilaku memberikan apa yang mereka inginkan, berusaha membahagiakan mereka dengan pijakan materi dan kenyamanan perasaan semata, bukan karena perintah Allah. Kita juga akan menjadi bangga ketika menapaki jalan karir yang sukses, diakui kepandaian, dipuji banyak orang, mendapatkan banyak pernghargaan. Dari situ bibit kesombongan mulai ada, merasa yang paling berjasa dan meremehkan orang lain. Merasa paling benar dan tidak lagi punya semangat menggali sunnatullah. Sampai akhirnya terjerumus dalam jurang kesesatan.

Keyakinan akan kembali pada Allah
Orang yang sholat dan sabar dengan benar, akan senantiasa menyadari bahwa apa yang dimilikinya bukanlah sesuatu yang kekal. Apa yang yang dimiliknya hanyalah titipan dan amanah dari Allah, kelak semua akan kembali kepada Allah, termasuk dirinya sendiri. Dan dia tidak kembali kepada Allah dalam kekosongan melainkan untuk mempertanggungjawabkan segala yang diperbuatnya, yang Nampak maupun yang ada di dalam hatinya. Ketika menyadari hal tersebut dan tidak tahu kapan ia akan kembali kepada Allah, tentu dia akan berusaha menggunakan waktunya dengan baik. Ia akan menghitung apakah sudah cukup ilmunya, harta yang ia zakatkan, kebaikan yang lakukan.
Maka orang-orang yang menjalankan sholat dan sabar dalam keadaan khusyu’ juga akan lahir keberanian, akan hilang segala keresahan selain keresahan akan takutnya ia pada dosa-dosanya. Oleh karena itu, orang yang menjalankan sholat dan bersabar dengan kesungguhan, maka akan senantiasa memiliki kesadaran akan kedudukannya, tanggungjawabnya, dan senantiasa wasapada. Mereka juga tidak akan takut menghadapi segala rintangan, karena yakin Allah bersamanya dan akan menolongnya. Maka, setiap ada masalah, setiap ada ujian, tidaklah berkurang imannya tidaklah berkurang keberanian melainkan semakin tumbuh dan terus membesar.

Thursday, April 14, 2016

Mengukur Sukses dan Gagal Melewati Ujian Kehidupan



Musibah atau kesulitan dalam hidup adalah sebuah keniscayaan. Sehebat apapun manusia, setinggi apapun ia berada, akan ada masa di mana ia terjun bebas dan menemui titik balik. Itu adalah paket ujian yang sudah tersaji dalam kehidupan ini.
Ujian diberikan kepada manusia bukan tanpa maksud dan tujuan. Seperti ujian sekolah, baik sekedar ulangan harian, ulangan tengah semester, ujian kelulusan atau apapun itu namanya, setiap ujian diberikan untuk menguji suatu kualitas. Jika ujian sekolah punya standar nilai untuk menentukan apakah seorang siswa sukses atau tidak menempuh suatu ujian dengan angka, lantas bagaimana dengan standar untuk ujian kehidupan? Bagaimana manusia dapat mengukur apakah ia berhasil atau tidak melewati suatu ujian.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Al Baqarah 155-157

Dari ayat tersebut disampaikan perintah untuk memberikan berita gembira kepada orang yang sabar. Dalam ayat sebelumnya disampaikan bahwa bagaiman Allah menguji manusia. Namun kemudian Allah memberikan kabar gembira pada orang-orang yang bersabar. Apa kriteria orang yang bersabar itu? yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan bahwa apa yang ia miliki adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Tentu saja ini bukan hanya sekedar ucapan, namun juga merupakan hal yang diyakini dan dihayati maknanya. Dalam pernyataan ini mengisyaratkan suatu bentuk tawakkal yang dalam. Bahwa manusia berserah kepada Allah. Di ayat terakhir, Allah menegaskan bahwa orang-orang seperti itulah yang mendapat keberkatan, rahmat dan petunjuk. Tentu saja orang-orang seperti ini merupakan orang-orang yang berhasil melewati cobaan-cobaan yang diberikan oleh Allah.
Dari sini dapat dianalisa bahwa orang-orang yang sukses dalam melewati ujian adalah mereka yang sabar, tawakal dan tidak putus asa dengan nikmat Allah. Jika kita baca ayat-ayat Al Qur’an, terdapat banyak sekali perintah untuk bersabar. Sebagaimana ayat di bawah ini:
Jadikan Sholat dan Sabar sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (Al Baqarah 45-46)
Sabar saat menjalani ujian yang diberikan oleh Allah merupakan kriteria sukses dalam menjalani ujian yang diberikan oleh Allah. Orang yang sabar mampu menerima keadaan dengan ikhlas, tenang dan tidak putus asa. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa sabar dapat dijadikan sebagai penolong, sebab dengan kesabaran yang benar, orang akan mendapatkan kekuatan untuk bangkit, kejernihan pikiran dan kemantaban hati.
Dalam surat Al Baqarah ayat 46 dijelaskan bahwa orang yang dapat bersabar adalah orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan akan kembali padaNya. Dari sini dapat dipahami bahwa indikator orang yang sabar adalah orang yang tawakkal. Mereka meyakini bahwa mereka hanyalah makhluk yang kelak akan kembali pada Allah. Jika dirinya saja akan kembali pada Allah, apalagi segala yang ada dalam kehidupan ini, tentu juga demikian. Ini artinya bahwa manusia harus tahu dari mana dirinya berasal dan akan menuju kemana.
Dari serangkaian penjelasan di atas, secara sederhana sebenarnya manusia yang sukses melewati ujian adalah ketika dalam ujian tersebut ia menjadi mengingat Allah, berserah padaNya dan bersabar. Hati yang ikhlas dalam menerima ujian sebagai bagian dari proses kehidupan, mengambil hikmah dan menjadi semakin tunduk sujud pada Allah, maka mereka menjadi manusia yang berhasil dalam menghadapi ujian. Orang-orang seperti inilah yang tidak akan menyerah dengan keadaan, tidak terlalu lama berlarut-larut bersedih dan mengutuk keadaan. Tetapi mereka justru bangkit, berevaluasi lalu mencari jalan keluar dengan usaha dan doa.
Namun kita perlu waspada apabila ternyata dalam menghadapi ujian kita juga banyak menghabiskan waktu untuk mengeluh, curhat sana sini dan justru semakin jauh dari Allah. Apalagi jika kita mulai meragukan kasih sayang Allah. Itu berarti ujian tidak membuat kita bisa evaluasi diri. Selepas dari musibah tersebut, kita justru akan terkena penyakit berikutnya, yaitu kesombongan. Kita hanya akan menganggap bahwa kita lepas dari sebuah musibah adalah dari usaha kita sendiri, tidak ada karunia Allah di sana. Berikutnya, manusia seperti ini tidak akan mendekat ke Allah dan sangat rawan menjadi kufur. Balasannya bisa tidak di dunia, tetapi kelak di akherat.
Kita juga perlu waspada bisa jadi kita gagal melewati ujian yang diberikan oleh Allah apabila kita menjadi putus asa ketika mendapati suatu musibah. Jika dalam proses menghadapi sebuah musibah ternyata mulai terasa lelah, tidak kuat dan ada keinginan untuk menyerah, maka sudah pasti itu adalah bisikan setan. Apabila ini kita biarkan dan terus menerus kita dengar, ini akan menggerus iman kita. Bukannya bangkit dan memohon pertolongan Allah, namun justru berlarut-larut dalam keputus-asaan. Padahal di dalam ayat Al Qur’an Allah telah menerangkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila ia tidak merubahnya sendiri.
Dari ikhtisar di ata, dapat kita rangkai bahwa kesuksesan orang dalam melewati ujian dari Allah adalah ketika ia dapat menggabungkan antara kekuatan untuk bangkit dan mendekatnya ia kepada Allah. Sedangkan lawannya adalah putus asa dan kesombongan.

Monday, April 11, 2016

Musibah sebagai Vaksin dan Obat dari Kesombongan



Musibah adalah suatu keniscayaan yang terjadi dalam hidup manusia. Besar maupun kecil, ketika manusia mengalami suatu masalah yang membuatnya sedih dan menderita, itu merupakan bagian dari musibah. Tidak satupun manusia di dunia ini yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengalami suatu musibah. Saya tidak pernah melakukan riset secara kuantitatif tentang hal ini, tetapi berkaca dari pengalaman pribadi dan sepanjang hidup saya bertemu dengan banyak orang, selalu ada saja kejadian buruk yang pernah mereka alami. Dari situ saya berpikir bahwa musibah, kesedihan, kegagalan atau apapun yang dapat disandingkan tentang itu merupakan suatu hukum alam yang ada bersamaan dengan adanya manusia dan kehidupan itu sendiri.
Allah tidak hanya menciptakan kehidupan ini dengan makhluk-makhlukNya saja, namun juga beserta dengan sifat dan sunnatullahNya. Manusia yang terdiri dari unsur jiwa dan raga, meliputi organ dan sifat-sifatnya membuat manusia akan bersikap dan melakukan berbagai tindakan yang membawa konsekwensi tertentu. Konsekwensi tersebut akan terhubung dengan makhluk atau manusia lain yang kemudian membawa akibat lain. Dari akibat yang muncul, bisa berupa kebaikan atau keburukan, kebahagiaan ataupun kesedihan. Seberapapun seorang manusia berusaha menghindar dan berhati-hati agar tidak terjadi hal yang buruk menimpanya, namun ia tidak dapat sepenuhnya mengendalikan semua faktor dan terhindar dari suatu musibah. Sebagaimana sebuah ayat yang saya kutip di bawah ini:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”  Al Anbiyaa’ 35
Sebagaimana firman Allah di atas, maka sudah  menjadi keniscayaan bahwa Allah akan menguji manusia. Namun tidak selalu berarti bahwa Allah secara zat langsung bertindak memberikan ujian kepada setiap manusia. Tetapi ujian itu sudah merupakan satu rangkaian kehidupan yang telah Allah diciptakan dalam hukum-hukumNya.
Tetapi kenapa harus ada ujian yang berupa musibah? Bukankah itu membuat manusia menjadi menderita? Dulu saat saya mendapat suatu masalah yang cukup berat, saya sering berpikir mengapa saya bisa mengalami hal tersebut? mengapa harus saya? Apa salah saya? Sebegitu berdosakah saya? Atau bahkan kadang muncul prasangka bahwa Allah mungkin marah kepada saya. Tetapi saya mulai merubah pandangan saya.
Saya berpikir bahwa saat manusia berada dalam suatu kesenagan, mereka cenderung menjadi lupa diri. Sebagaimana firman Allah: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku." Az Zumar 49. Manusia cenderung mulai mengingat Allah saat ia tertimpa musibah. Ada manusia yang bila diberi sedikit musibah, ia kemudian bisa cepat berevaluasi dan memohon ampun pada Allah, namun ada yang hanya ketika mendapat musibah besar, barulah ia bisa mengingat Allah.
Dalam situasi yang menyenangkan, berkecukupan, nyaman, berhasil akan mudah sekali tumbuh benih-benih kesombongan di dalam diri manusia. Ia akan merasa begitu hebat, merasa bahwa apa yang dicapainya adalah karena usahanya, kerja kerasnya, kepandaiannya. Kesenangan itu tidak dianggap sebagai suatu anugrah dari Allah. Jika situasi seperti itu berlangsung terus menerus, maka ia akan menjadi orang yang kufur nikmat. Lebih jauh dari itu, ia akan merasa menjadi orang yang merasa hebat di atas orang lain bahkan tidak lagi menganggap kemahabesaran Allah.
Bagaimana kemudian kehidupan manusia seperti itu selanjutnya? Ia bisa menjadi manusia yang tamak, tidak pernah puas, selalu ingin menjadi sosok hebat. Dalam mencapai keinginannya, ia tidak segan untuk melakukan usaha berbagai cara baik yang halal maupun haram, yang etis maupun tidak. Hawa nafsunya akan mendorongnya lebih besar dari hati nuraninya. Jika sudah seperti itu, akal pikirannya tidak lagi bekerja dengan baik. Ia akan melanggar aturan, hukum kemanusiaan dan lebih jauh lagi hukum Allah. Di titik tertentu, saat masalah-masalahnya sudah menggunung es, maka hancurlah ia pada titik tertentu. Beruntung apabila itu terjadi di dunia, ia bisa tersadar dan bertaubat. Tetapi bagaimana jika tidak ada kesempatan untuknya bertaubat di dunia, maka ia akan menerima azabnya di akherat. Naudzubillah…
Maka Allah menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang teramat berat. Apabila manusia telah mulai lupa dan berpaling dari Allah, ada kerikil-kerikil kecil yang bisa menyadarkannya bahwa ia tidak selamanya bisa menyelesaikan semua. Ia butuh sesuatu di luar dirinya untuk membantunya. Saat kerikil kecil itu belum mampu menyadarkannya, maka muncul ujian yang lebih besar lagi agar ia bisa tertampar lebih keras dan tersadar. Suatu kejadian yang bisa membuatnya tertunduk, bersujud pada Allah dan meminta pertolongan. Di titik itulah ia dapat menyadari betapa rapuhnya, betapa tidak berdayanya manusia di hadapan Tuhannya. Dari situ lantas ia mulai evaluasi diri, mempertanyakan apa yang salah dari perilakunya selama ini, baik terhadap sesama manusia, makhluk Allah atau bahkan Allah sendiri. Ia kemudian menjadi manusia yang waspada, belajar dan berusaha untuk tidak tergelincir pada masalah yang sama.
Kita tentu pernah mendengar bagaimana kisah orang-orang yang bangkit setelah tertimpa suatu musibah. Tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi semakin tangguh dan pada akhirnya meraih kesuksesan yang lebih baik lagi. Salah satu ayat yang juga dapat kita ambil pelajaran dalam hal ini adalah, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” Pada peristiwa perang Uhud ini, umat Islam pada saat itu dapat mengambil hikmah bahwa kemenangannya di Badar tidak boleh membuat mereka sombong hingga meremehka lawan. Ini akan menjadi pelajaran penting agar mereka taat pada Rasul dan kuat dalam barisan. Ujian kekalahan ini juga bisa menunjukkan siapa yang sesungguhnya beriman dan mana yang merupakan orang munafik sehingga umat Islam bisa mengatur barisan yang lebih kuat lagi ke depannya. Kita dapat ketahui hasil-hasil selanjutnya, umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad tidak pernah kalah dalam peperangan.
Dari sini saya memandang bahwa suatu musibah adalah sebuah vaksin dan juga obat untuk penyakit sombong. Manusia sangat mudah terkena kesombongan, ketika ia lebih banyak mengalami kesuksesan atau kebahagiaan. Sebelum ia benar-benar menjadi sombong, maka musibah datang untuk menjaganya agar tidak sampai terserang virus kesombongan. Dalam hal ini, musibah merupakan sebuah vaksin bagi manusia. Tetapi jika ternyata virus kesombongan menyerang sedemikian kuat pada diri seseorang karena sedemikian dahsyatnya pengondisiannya, maka musibah besar bisa saja hadir. Dari situ, musibah menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan.
Setiap manusia tentu lebih berharap mendapatkan vaksin saja daripada harus sakit dulu dan menelan obat yang teramat pahit. Tetapi Semua itu tentu bergantung dari bagaimana kita sendiri dalam menempa diri. Bagaimana kita senantiasa menjaga diri dari hawa nafsu, kemungkaran dan jangan sampai melupakan Allah sebagai Tuhan yang Maha pemurah dan satu-satunya penolong.
Maka, saatnya juga lebih bijak dalam memandang sebuah musibah. Bahwa musibah terjadi bukan saja karena Allah marah dan tidak sayang pada kita. Justru di situlah letak Maha Pengasih Allah, di mana Allah tidak begitu saja membiarkan manusia terlena dan berada dalam kesesatan melainkan juga memberikan suatu mekanisme yang justru menyelamatkan manusia dari bencana yang lebih besar.  Tentu tidak mudah bersyukur saat kita tertimpa musibah, namun tentu patut mulai kita coba. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah 216, “..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Saturday, April 9, 2016

Menjaga Diri dari Kesombongan




“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (Karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “ QS. Luqman 18.
Kesombongan merupakan salah satu penyakit hati yang tidak dibenarkan dalam moral universal. Meskipun dalam kenyataannya banyak sekali kita jumpai manusia yang bersikap sombong, namun saya kira secara universal manusia tidak membenarkan kesombongan, bahkan pada manusia yang tidak sadar bahwa dirinya melakukan kesombongan.
Di dalam Al Qur’an, Allah juga seringkali mengingatkan agar manusia tidak bersikap sombong, baik sombong di hadapan Tuhannya maupun di hadapan sesama manusia. Manusia yang memang memiliki berbagai kelebihan dibanding makhluk Allah yang lain, memiliki akal yang bisa membuat sesuatu yang luar biasa, namun juga memiliki hawa nafsu menjadikannya sangat rentan terhadap sifat sombong. Oleh karena itu, Allah berkali-kali mengingatkan manusia untuk menjauhi sifat sombong, karena kesombongan memiliki dampak yang cukup fatal bagi manusia. Ketika seseorang mulai sombong, maka ia mulai bangga dengan dirinya sendiri, merasa lebih, ia mulai tidak mau mendengar, mulai memaksakan pendapatnya, merasa dirinya yang paling benar kemudian meremehkan orang lain. Jika hal tersebut berlangsung terus menerus, maka lama kelamaan ia akan berlaku dzalim.
Kita mungkin membayangkan orang-orang sombong adalah mereka yang mengumbar omongan muluk-muluk (baca: berlebihan) tentang dirinya. Kita membayangkan sosok manusia yang memiliki kekayaan, berpendidikan tinggi, atau apapun yang kemudian ia bangga-banggakan dan dipamerkan. Ia juga merendahkan orang lain dengan menghina. Namun, tidak semua kesombongan nampak begitu terang-terangan. Kesombongan dapat berwujud tutur kata yang halus dari seorang tokoh yang dianggap paling bijaksana sekalipun. Kesombongan dapat muncul dari nasehat-nasehat yang menggugah. Kesombongan itu bisa bermula dari kepuasan telah berbuat baik atau berada di pihak yang benar. Ia merasa lebih baik dari orang lain, lalu merasa berada di atas orang lain.
Di situ kesombongan dapat sangat halus menjalar dalam diri seseorang yang kemudian mengakar dan menguasai pikiran serta hati manusia. Saat kesombongan sudah sedemikian menguasai, maka akan lahir ketidakadilan di sana. Satu peristiwa akan diikuti oleh rentetan peristiwa lain yang dalam jangka pendek ataupun jangka panjang akan membawa dampak buruk bagi manusia lain.
                Manusia lebih mudah tergelincir pada kesombongan daripada menjaga diri dari kesombongan. Ujian kesombongan masuk dengan sangat halus, dilakukan oleh manusia bahkan tanpa sadar. Kesombongan seseorang bisa hadir bahkan saat seseorang itu berpemahaman bahwa prinsip obyektifitas harus dijunjung, siapapun yang berbicara kalau benar maka harus diakui. Pada kenyataannya tidak sedikit dijumpai bahwa dalam melihat suatu kebenaran, seseorang lebih melihat siapa subyek yang berbicara. Siapa subyek tersebut bisa mengacu pada jabatan, legitimasi, senioritas, dsb.
                Lalu bagaimana agar seseorang tidak menjadi sombong? Menurut saya ada 2 hal utama yang harus diperhatikan oleh manusia, yaitu sadar bahwa di atas langit masih ada langit dan senantiasa memperlakukan setiap manusia sebagai manusia.
Di atas langit masih ada langit berarti bahwa seorang manusia yang telah belajar seberapun banyaknya dan sepandai apapun ia merasa, namun masih ada orang lain yang juga memiliki ilmu yang tinggi. Paling tidak, ia harus sadar bahwa ia bukan orang yang menguasai segala bidang ilmu di dunia ini. Meskipun ia menjadi seorang master di bidangnya atau dua bidang sekaligus, namun bukan seluruh bidang. Dalam bidang yang lain, di belahan dunia yang lain tentu ada master-master yang lebih luar biasa. Itu berarti, dia tidak boleh merasa bahwa dirinya adalah ‘Yang Paling’ sehingga membuatnya berhenti belajar dan berhenti dalam satu titik kesimpulan.
Saya juga belajar tentang menjaga diri dari kesombongan melalui nasehat yang saya cuplik dari sebuah buku yang mengisahkan pemikiran dan perjuangan seorang Kyai[i]. Berikut ini kutipan nasehat tersebut: 
“Awal manusia mendapat ilmu dari pendengaran. Tetapi kamu jangan sombong, sebab belum tentu bisa menganalisis. Sudah mampu menganalisis jangan sombong kamu, sebab belum mampu mengerti. Sudah mengerti, jangan sombong sebab belum tentu kamu benar. Sudah benar jangan sombong kamu, sebab belum tentu adil. Sudah adil jangan sombong kamu, sebab belum tentu bijaksana. Sudah bijaksana jangan sombong kamu, sebab belum tentu waspada. Sudah waspada jangan sombong, sebab belum tentu masuk surga. Sudah masuk surga jangan sombong, sebab belum tentu bertemu dengan pemilik surga.”
Di dalam Al Qur’an juga terdapat sebuah ayat yang dapat kita jadikan pengingat agar kita tidak terjerumus dalam kesombongan:
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. QS. Al Israa’ 37
                Yang kedua adalah senantiasa memperlakukan setiap manusia sebagai manusia. Seseorang yang dalam pemahamannya merasa dirinya lebih dari orang lain, ia merasa menjadi manusia yang (selalu) benar dan berada di jalur yang (selalu) benar. Hal tersebut tidak jarang membawa pada pemahaman bahwa dia merupakan orang yang lebih unggul dari yang lain, manusia terpilih dan diberi kelebihan dibandingkan dengan manusia yang lain. Orang yang berjasa dalam suatu hal terkadang kemudia merasa menjadi orang yang paling berjasa. Meskipun memang ia memiliki jasa yang besar terhadap suatu kemajuan, namun bukan berarti ia adalah satu-satunya orang yang paling berjasa. Kalkulasi secara kuantitatif dan kualitatif mengenai amal atau jasa seorang manusia hanyalah Allah yang memiliki catatan validnya. Sebab Allah tidak hanya menghitung dari yang nampak, Allah menghitung dari setiap kata, gerak bahkan isi di dalam hati dan pikiran dalam sadar maupun bawah sadar. Sedangkan manusia memiliki kemampuan terbatas dan relative karena dipengaruhi oleh persepsi. Manusia lebih dominan menggunakan indera untuk menangkap yang nampak. Sedangkan dalam menilai yang tidak nampak, ia menggunakan analisa. Sedangkan analisa itu sedikit banyak dipengaruhi persepsi yang terbangun atas asumsi-asumsi atau pengalaman masa lalunya.
                Dari pemahaman akan siapa itu manusia, tentu ini harus dijadikan landasan dalam bersikap dan bertindak. Menempatkan secara tepat kemanusiaan dalam memperlakukan orang lain maupun dirinya sendiri. Artinya bahwa ketika memperlakukan orang lain, berarti dia harus bisa berempati kepada orang lain. Bahwa manusia tentu memiliki kekurangan, namun juga kelebihan. Bahwa manusia memiliki kesalahan tetapi juga kebenaran. Bahwa manusia memiliki kegagalan, namun juga kesuksesan. Bahwa manusia memiliki kebohongan, tetapi juga kejujuran. Dengan begitu, akan dapat menimbang seberapa salah dan benar, serta memperlakukan masih dalam batas-batas kewajaran atas perasaan dan pikiran seorang manusia.
                Dalam memanusiakan dirinya sendiri, maka seorang manusia akan menempatkan dirinya sebagai manusia biasa. Yaitu manusia yang memiliki kelebihan, namun juga kekurangan. Seseorang yang memiliki kebenaran, namun juga kesalahan. Manusia yang memiliki kesuksesan, namun juga kegagalan. Memang kata-kata ini tidak ada bedanya dengan kata-kata yang saya sebutkan di atas, tetapi akan membentuk persepsi yang berbeda. Dalam melihat manusia lain, seseorang cenderung mendahulukan keburukan daripada kebaikannya, kesalahan daripada kebenarannya. Sedangkan dalam memandang dirinya sendiri, seseorang akan cenderung mendahulukan kebenarannya daripada kesalahannya, kebaikan daripada keburukannya.
                Jika bijaksana, seorang manusia haruslah memegang prinsip kemanusiaan tersebut agar ia tidak mudah terbawa persepsi dan kecenderungan tertentu dalam memperlakukan manusia. Sekali manusia terjerumus dalam kesombongan, akan sulit sekali terselamatkan jika tidak ada suatu bencana besar yang menimpanya. Di Al Qur’an sendiri telah banyak pelajaran tentang bagaimana Allah menimpakan bencana pada suatu kaum yang sombong. Islam pun mengajarkan penganutnya untuk menjauhi sifat sombong. Apalagi di hadapan Allah, ia haruslah tunduk mutlak dan berserah. Allah di sini tidak hanya zatNya semata namun juga ciptaanNya baik yang berupa sunnatullah maupun makhluk ciptaanNya.


[i] Pesantren agribisnis
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates